Tentunya kita pernah mengalami saat didalam rumah pada malam hari, tiba tiba listrik padam. Dengan kondisi gelap gulita kita berjalan mencari korek dan pelita untuk sebagai penerang  saja pasti dengan meraba raba (grayah grayah) kira kira apa ini….. O” bukan.  kira kira apa itu… O’ juga bukan.  kira kira apa disini….. O’… gak ada. Kira kira Apa disitu…. O’… ternyata gak ada juga.  kondisi gelap gulita memang bisa bikin manusia hanya bisa meraba raba (grayah grayah) dan yang ada hanyalah kira kira dan kira kira.

Demikian juga manusia hidup di dunia ini yang meskipun nampak terang, namun kenyataannya rancau (worsuh lan peteng ndhedhet ). Karena hidup di Dunia tentunya juga

Bertalian dengan segala sesuatu unsur alam duniawi. Termasuk unsur  tanah, api, air dan angin.

Dimana setiap unsur mempunyai sifat dan karakter  masing masing yang mempengaruhi  terhadap sifat nafsu manusia. Dalam tasawuf jawa disebut aluamah, amarah, supiyah dan mutmainah. Kalau kita  mengingat sejarah karya Allah menciptakan manusia pertama Nabi Adam, manusia pertama di buat satu sisi dari materi alam tentunya juga unsur unsur yang terkandung, pada sisi lain juga Roh dari Allah yang menghidupi. Jadi garis besarnya manusia hidup ada dua unsur : yaitu unsur ILLAHI roh yang berasal dari ALLAH  dan unsur INSANI materi yang berasal dari ALAM dunia ini.  Makanya jika ada orang meninggal dunia innalilahi wa innalilaihi roziun. Yang asalnya dari Gusti ALLAH biarlah kembali pada Gusti ALLAH, dan unsur unsur yang dari ALAM kembali ke ALAM.

Semua manusia hidup di dunia ini mengharap agar bisa kembali ke hadirat Allah sebagai sang penciptanya Berbagai macam cara, upaya dan sarana di tempuh untuk mendapatkan kesempurnan yang  hakiki kasampurnan yang sejati. Dalam ilmu jawa disebut sangkan paraning dumadi. Menurut versi saya,  saya istilahkan PURWO, MADYO lan WASONO (wusananipun)

PURWO:   asal manusia sebelum dilahirkan di alam dunia memang berasal dari roh kuasanya

Gusti Allah. Dalam salah satu aliran kejawen Ada yang meng istilahkan namanya nur muhamad dan masih banyak istilah lain. Karena di jawa berkembang banyak merek aliran.  tentunya berbeda merek aliran juga berbeda istilah untuk penyebutan namanya.

MADYO:  manusia dilahirkan ke dunia mempunyai sifat, ujud  (badan daging) yang disebut badan

Jasmani. Badan jasmani yang merupakan pembauran unsur  unsur  alam di dunia ini termasuk  unsur tanah, api air, angin, dimana unsur  satu samalain mempunyai sifat dan karakter yang berbeda,  tentunya juga mempengaruhi terhadap sifat dan  emosional manusia. Gampang marah gampang tersinggung, pendendam, serakah, dengki, iri, jail, ingin memiliki yang bukan haknya dll.

Meskipun pada dasarnya sifat sifat semacam itu bertentangan dengan roh (dhat) yang berasal dari Gusti Allah yang berada didalam diri manusia itu sendiri.

Bukan berarti manusia tidak boleh mempunyai nafsu, namun seharusnya bisa  menundukkan dan mengendalikan nafsu,  biar tidak brutal dan liar. Karena manusia mempunyai akal budi.mempunyai moral dan etika berbeda dengan hewan meskipun sama sama hidup, sama sama makluk hidup, hewan tidak mempunyai akalbudi.

Sebetulnya manusia setiap akan bertindak yang salah, berbuat yang nista, sering di ingatkan oleh roh (dhat) yang berada di dalam diri manusia namun pergumulan antara roh dan nafsu  cenderung sering nafsunya yang keluar sebagai pemenangnya. padahal  Mengumbar sifat nafsu  tentunya mengakibatkan salah atau dosa.

dan upah dari dosa adalah maut. Karena suatu tindakan  yang salah akan mendapatkan hukuman

WASONO: manusia hidup di dunia tak ada yang abadi. ada keterbatasan usia dan pada akhirnya juga akan di panggil menghadap ALLAH dan mempertanggungjawabkan terhadap segala sesuatu tindakan dan perbuatannya, yang baik maupun yang jahat saat hidup di alam dunia. menyadari tindakan manusia yang sering berbuat salah yang berakibat dosa, dan dengan adanya dosa akan mendapat hukumannya dari Allah, disinilah,

Manusia berupaya mencari jalan kebenaran agar bisa kembali pada sang khalik dan terbebaskan dari hukuman ALLAH yang MAHA KUASA sebagai sang penciptanya.(ngupoyo lan ngudi kasampurnan kang sejati).

“bisakah manusia kembali ke hadirat ALLAH ?

pernyataan Gusti Allah yang telah diwahyukan melaui para nabi, para rasul yang di utus menyampaikan pada manusia sebagai umatnya  Gusti Allah itu maha pengasih, maha penyayang, maha pengampun, begitu besar kasih Allah yang selalu peduli kepada manusia sebagai umatnya, mengharap agar manusia kembali ke pangkuan hadiratnya. Sehingga diberi aturan, di tunjukkan jalannya di kasih rambu rambu untuk sebagai pegangan hidup yang tersurat dan tersirat dalam Kitab Tourat, Jabur, Injil, Quran dll agar manusia dapat kembali ke alam kesempurnaan yang hakiki (kasampurnan yang sejati) namun pada prakteknya manusia cenderung suka menentang aturanNYA, melanggar rambu-rambuNYA, bahkan juga lebih suka memilih berjalan menurut jalannya sendiri-sendiri bahkan ada juga yang menafsiri Gusti Allah dengan reka yasanya manusia yang tentunya akan lebih menyesatkan manusia itu sendiri. Terbukti semakin maraknya aliran yang menyesatkan dan melenceng dari aqidah yang di berikan oleh Gusti Allah. Mungkinkah manusia merasa kurang marem dengan aturan yang telah di berikan Gusti Allah. Sehingga bikin dan merekayasa aturan sendiri

ini menunjukkan bahwa dunia ini memang gelap. Terbukti masih adanya sebagian manusia yang masih meraba raba (grayah grayah) untuk mencari jalan kebenaran yang hakiki. Untuk menemukan terang yang sejati (kiro kiro opo iki dalane,  kiro kiro opo liwat kene,  kiro kiro opo liwat kono kiro kiro dan kiro kiro)

Padahal kasampurnan yang sejati itu miliknya Gusti Allah  dan di kuasai sepenuhnya oleh Gusti Allah. Bahkan telah di tunjukkan oleh Gusti Allah pada kita dengan gamblang melalui para Nabi dan rasul yang di utusnya dan tak ada yang dirahasiakan. Alangkah naifnya jika kita merekayasa dan membikin jalan sendiri apalagi Cuma didasari othak athik gathuk yang kira kira di anggap mathuk Apalagi yang Cuma didasari dengan gugon tuhon.

Kasampurnan yang sejati tidak bisa ditempuh dengan mengandalkan kesaktian, keampuahan maupun kepintaran manusia.

Kasampurnan yang sejati hanya dapat kita tempuh dengan IMAN kepada Gusti Allah mituhu ing dhawuhing Gusti Allah,

Kasampurnan yang sejati hanya dapat kita tempuh dengan IMAN yang disertai dengan PERBUATAN, dan tidak bisa mengandalkan intelektual maupun rekayasa manusia.

Karena sehebat dan sesakti  apapun manusia hidup di alam dunia ini prasasat iso njolo angin, mletik tanpo suthang Mabur tanpo elar.

Kasampurnan yang sejati hanya dapat di tempuh dengan selalu adanya hubungan dari pribadi kepada pribadi, dari oknum kepada oknum antara manusia dengan Allah yang menciptakannya.

Kasampurnan yang sejati hanya dapat kita raih jika kita sebagai umatnya ini bersedia nurut di atur oleh Gusti Allah serta bersedia melaksanakan dan menjalankan yang menjadi perintahnya dan menjauhi yang menjadi larangannya. Karena hanya Gusti Allah yang menguasai sangkan paraning dumadi. Serta yang menguasai kasampurnan yang sejati. Karena Gusti Allah adalah jatining kayekten lan kauripan.

Saat ini kita memasuki bulan yang masih baru, tahun yang masih baru, semoga beberapa patah kata ini bisa menjadi bahan renungan dan membawa makna secercah cahaya  dalam mengarungi samudra kehidupan didunia ini, yang nampaknya masih penuh dengan badai. Tidak ada salahnya jika kita mau ingat falsafahnya sunan Giri. (sak bejo bejaning wong kang lali, luwih begjo wong kang iling lan waspodo).

(Nyono Krisdiantoro).