Menapaki jaman yang katanya memasuki jaman canggih era saat ini, ternyata ada dampak segi positif dan negatifnya. terutama terhadap emosional serta tingkahlaku manusia. kita sadari maupun tidak, ternyata kehidupan manusia memang semakin kejam. terbukti jika kita melihat pada penayangan media cetak maupun media elektronika, banyaknya kasus penganiayaan sampai kasus pembunuhan dengan cara yang amat sangat sadis. Ada istri yang membunuh suaminya, ada suami yang membunuh istrinya, ada juga orangtua yang tega membunuh anaknya. bahkan ada juga anak yang sampai hati tega membunuh orangtuanya. bahkan penganiayaan dan pembunuhan tidak terbatas pada menghilangkan nyawa seseorang, namun ada juga yang tega menganiaya dan membunuh terhadap karier seseorang. menganiaya dan membunuh yang menjadi sarana dan prasarana untuk mencari nafkah seseorang. kasus penganiayaan dan pembunuhan pertamakali didunia dilakukan oleh anak manusia pertama didunia yaitu nabi Adam. hanya gara – gara merasa iri, Kain telah tega menganiaya dan membunuh adik kandungnya, Habil.
manusia tidak semata – mata hanya merupakan badan jasmani, namun juga ada badan rohani yang merupakan manifestasi dari kuasa Allah yang ada dalam diri manusia, dalam tasawuf disebut “nur”, ada juga yang menyebut roh suci (roh kudus), yang dirangkum membentuk manusia seutuhnya antara jiwa dan raga, “,kenapa manusia yang didiami roh kudusnya Gusti Allah, tega berbuat sekejam itu ? padahal roh suci (roh kudus) yang merupakan manifestasi dari kuasa Allah, yang juga merupakan badan rohani yang berdomisili di dalam diri manusia suka akan kasih sayang, pemaaf, penyabar, ramah – tamah, suka akan cinta damai, serta suka akan penguasaan diri (pengendalian diri). ini membuktikan bahwa manusia telah melenceng dan kehilangan jati diri, kehilangan identitas diri yang sejati, lebih tepatnya meninggalkan jati diri yang asli, dan lebih suka jadi manusia yang tidak manusiawi.
Kita sadari maupun tidak, kita juga sering berbuat yang kayak begitu. Kalau kita mau jujur dan mau intropeksi diri, kita juga sering bertindak yang kayak begitu. masih ada rasa iri, benci, pendendam, tidak sabaran bahkan tidak bisa mengendalikan diri. malah ada juga yang demi ambisi pribadi, kelompok ataupun golongan, rela menempuh dengan jalan menghalalkan segala macam cara meskipun yang dilakukan dengan cara yang kurang manusiawi.
Kita harus ingat: drajat pangkat iso lebur, bondo donyo iso hancur, ayu nggantheng iso luntur, menungso urip yen ora iso ngendaleni diripribadi dadi wong kemplur.
Banyak manusia yang berupaya dengan segala macam cara mengharap bisa ketemu dengan jati dirinya. yang diistilahkan dengan (sedulur kang sejati, roh suci / roh kudus, guru sejati) dan masih banyak istilah – istilah lain yang tidak saya sebutkan satu persatu. karena lain versi, juga lain penyebutan istilah namanya. meskipun pada dasarnya tujuannya sama. Demi untuk bisa ketemu jati dirinya sampai ada yang rela melakukan ritual tapabrata di goa, di hutan sampai ada juga yang di kuburan. ini semua dilakukan demi ingin bisa ketemu dengan jati dirinya. Sah – sah saja orang mau melakukan ritual ataupun puasa maupun tapabrata dimanapun juga namun semua itu tanpa didasari adanya penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah yang menguasai jati dirinya manusia, dan tanpa dilandasi adanya sikap serta perilaku yang penuh dengan kesabaran, adanya rasa welas asih, suka akan cinta damai, bisa mengendalikan diri, sia – sialah usaha manusia itu.. andaikan bisa bertemu dan bertatap muka dengan manifestasi kuasa ILLAHI yang ada dalam diri manusia yang di istilahkan sedulur kang sejati ataupun guru yang sejati, namun tindakan dan perilakunya tidak ada perubahan yang lebih baik dan lebih positif dan masih juga gampang marah dan gampang emosi, ya sama juga bohong dan tiada arti.
Meskipun andaikan bisa ketemu Malaekat bahkan sekalipun bisa ketemu Gusti Allah, namun kelakuannya tidak bisa mengendalikan diri, bahkan masih suka bertindak anarkis, suka membenci, suka berbuat jahat, ya.. percuma dan tiada guna.
Karena yang lebih baku bukan masalah ketemu dari oknum kepada oknum maupun dari pribadi kepada pribadi, tetapi adanya perubahan kesadaran dari perilaku yang tidak baik berubah menjadi baik. perubahan dari jahat menjadi tidak jahat. karena pada dasarnya badan rohani yang merupakan jati diri manusia suka akan kasih, lemah lembut, penyayang, penyabar, cinta damai.
Jati diri seseorang dapat dilihat dari imannya. Iman yang baik dapat dilihat dari jiwanya. Jiwa yang baik dapat dilihat dari sifat, sikap serta tingkahlakunya. mau ngomong jiwanya bagus, sehat, tapi didalam praktek kehidupannya tidak bisa mengendalikan diri, mudah marah, suka ngamuk….. berarti jiwanya amburadul. mau ngomong imannya bagus, jiwanya bagus, namun jika masih suka benci terhadap sesamanya, suka bohong, suka memfitnah,…. berarti imannya rapuh.
Orang kalau imannya baik, tentunya jadi apapun pasti baik juga. jadi rakyat ya rakyat yang baik. Jadi aparat ya pasti aparat yang baik. Orang kalau jiwanya baik, jadi guru ya guru yang baik. Jadi perangkat desa ya perangkat desa yang baik.
Alangkah indahnya hidup manusia di muka bumi ini, jika semua manusia pada bersedia mencerminkan jati dirinya. Tentu saja hidup ini akan terasa nyaman dan damai. karena tidak akan terjadi peperangan, tidak ada maling, tidak ada pembunuhan, yang ada adalah saling menyayangi, saling mengasihi sesama umatnya gusti Allah. saling menghargai dan menghormati terhadap hak asasi orang lain, hidup rukun serta ramah – tamah . disinilah manusia layak di istilahkan wujuding manunggiling kawulo kalawan Gusti, Gusti kalawan kawulo. di tunggili dining Gusti mboten namung mahanani bagusing ati, ananging ugi mahanani bagusing budi lan pakerti. Lalu bagaimana dengan kita, sudahkah kita mempunyai budi pekerti yang baik ? tentunya yang lebih tahu adalah diri kita masing – masing.
Ibarat kita ini lampu semprong (lampu yang ada semprong / torong kaca) marilah semprongnya jangan terus – terusan kita kotori dengan jelaga (langes). biar tidak nampak hitam dan kotor. Karena dengan hitam dan kotornya semprong itu, nyala lampu yang dari dalam tidak akan nampak terang bias sinar cahayanya. karena terhalang semprong yang hitam dan kotor itu.
Ibarat pelita ada nyalanya, biarlah juga nampak bias terang cahayanya. (enek urip yo ben ketok urube). Karena kita hidup ini tidak hanya sekedar hidup atau (mung urip – uripan) bahkan juga gak boleh hanya semau gue. karena mau tidak mau kita diikat oleh tatanan aturan kehidupan yang diatur dan diawasi langsung oleh sang sutradara Agung yang menciptakan kita sebagai umatnya.
mau tidak mau kita sebagai manusia diikat oleh tatanan aturan hukum yang langsung di awasi oleh yang Maha adil. yang keadilannya tidak bisa disuap dengan apapun juga.
Makanya “nur” cahaya ILLAHI yang berada didalam diri kita, janganlah kita kotori apalagi kita tutupi dengan imbas –imbas atas kelakuan dan kebobrokan tingkahlaku kita yang cenderung hanya menuruti sifat nafsu angkaramurka duniawi, yang ujung – ujungnya akan semakin jauh tersesat di dunia rimba yang penuh dengan jerat – jerat yang menyesatkan. mumpung masih ada waktu dan kesempatan marilah lebih baik kita menyerah dan kembali jadi manusia yang hakiki. Jadi manusia yang manusiawi, sehingga segala sifat, sikap, tingkahlaku serta tindakan kita biarlah benar – benar cermin dari jati diri yang suka akan cinta kasih, kedamaian, pemaaf, murah hati.
Karena dengan didasari semuaitulah terbentuknya manusia yang berahlak, bermoral dan berbudi luhur. manusia yang punya etika dan beradab.
Pemahaman dan penafsiran untuk mencari jati diri juga sering salah arti bagi kawula muda diera saat ini. dengan dalih untuk mencari jati diri ada yang mendirikan kelompok /club gangster.
dengan dalih untuk menemukan jati diri, ada yang berperilaku terkesan agak amburadul, dan masih banyak tindakan dan perilaku sebagian kawula muda yang terkesan kasar dan anarkis hanya untuk mencari dan menemukan jati diri. padahal jati diri bukanlah sesuatu tindakan biar dianggap wah, biar dianggap jagoan ataupun dianggap hebat yang terkesan sombong.
jati diri tidak akan bisa ditemukan dengan cara kekerasan ataupun berperilaku semau gue yang didasari dengan kesombongan..
Karena jati diri bersifat ruhaniyah, sehingga hanya akan bisa ditemukan dengan cara pendalaman spiritual untuk penguatan iman yang pada hakekatnya bisa sebagai pedoman dan pegangan hidup yang akan membimbing dan menghantarkan untuk dapat menghayati arti hidup dan kehidupan yang sesungguhnya. kehidupan yang penuh dengan romantika problema hidup yang memang benar – benar kompleks. hanya berdasarkan kuatnya imanlah yang bisa sebagai filter untuk memilah dan memilih mana yang haq dan mana yang batil. mana yang akan membawa berkat dan mana yang akan membawa laknat. AMIN. (Yon Kris D)