Beberapa tahun terakir  marak dengan istilah  JI (jual isteri)  JS (jual suami)  JA (jual anak)  JM (jual musuh)  JU (jual umur)  dan masih banyak lagi istilah istilah yang intinya menjual manusia / barter manusia ditukarkan dengan uang kepada kelompok oknum-oknum gaib yang mengelola dan mengkoordinir untuk mencari  manusia yang akan dijadikan budaknya di alam gaib. Meskipun dari kelompok gaib istilah bahasanya lebih halus, mau dijadikan karyawannya ataupun dijadikan stafnya.

Bagaimana proses pelaksanaannya ?

Pada umumnya  tempat tempat yang menyediakan proses ritual pesugihan begituan pasti ada kuncennya. Dan kuncenlah yang sebagai mediator komunikasi antara manusia yang membutuhkan, dengan oknum Gaibnya. Disitulah terjadi negosiasi untuk mencapai kesepakatan. Jika sudah ada kesepakatan termasuk nilai dan nominalnya barulah orang yang akan membarterkan anaknya maupun isteri maupun suaminya  disuruh melakukan ritual. Adapun ritual yang diterapkan kebanyakan orang yang mempunyai niat disuruh melafalkan lafalan tertentu dan tidak boleh tidur sambil menghadap kardus kosong yang ditutup.  Biasanya kardus yang tertutup akan berisi uang dan bisa dibawa pulang. Namun jangan kaget jika ketika pulang membawa uang hasil proses itu kendaraan yang anda naiki terasa agak berat tidak mampu melaju secara normal. Karena disaat pulang oknum-oknum dari lokasi memproses itu pasti ada yang mengikuti sampai dirumah. Dan juga tidak usah kaget jika orang yang dibarterkan dirumah sudah menggelepar-gelepar kesakitan.

Namun yang lebih lucu banyak komentar maupun informasi  melalui internet maupun melalui media apapun serasa gampang dan mudah serta betul-betul menjanjikan keberhasilannya.  Padahal menurut saya banyak yang cumak abal-abal, bohong-bohongan dan tipu-tipu mafia perdukunan. 

Apa yang menyebabkan tidak berhasil ?

Ada beberapa faktor yang mendasari ketidak berhasilan menerapkan ritual begituan.

  1.    Tempat dan lokasi. Apakah tempat dan lokasi yang dianggap sakaral untuk ritual itu benar-benar ada kelompok yang mengelola pesugihan sistem barter manusia atau tidak. Karena berdasarkan survey saya di beberapa daerah pada kenyataannya belum tentu yang konon katanya tempat proses itu pasti benar menyediakan dan mengelola pesugihan sistem barter manusia.
  2.    Kuncen. Apakah kuncennya benar-benar mampu dan berkompeten dibidang itu, karena pada kenyataannya banyak yang mengaku mampu dan bisa proses masalah itu, ternyata setelah saya lihat hasilnya 0 (nol). Bagaimana bisa berhasil jika kuncen yang seharusnya bisa menjadi mediator untuk menyambungkan antara manusia dengan oknum gaib tidak bisa nyambung. Yang pasti hasilnya akan sia-sia belaka. Bukannya untung malah buntung. Memang saya akui sampai saat ini masih ada tempat dibeberapa daerah  dan ditangani kuncen yang benar dan juga bisa berhasil.  Namun tidak etis jika saya menyebutkannya dengan detail.

Bagaimana perbuatan JUAL MANUSIA dilihat dari sisi hukum TUHAN ?

Yang pasti perbuatan dan tindakan itu adalah perbuatan yang menyimpang dan tidak dibenarkan oleh ajaran agama apapun. Karena si pelaku sama saja dengan membunuh terhadap orang yang dijadikan tumbalnya. karena Setiap perbuatan dan tindakan kita pasti akan kita pertanggungjawabkan di hadapan TUHAN. Selain itu sama halnya kita menjalin persekutuan dengan setan yang tentunya akan menyeret dan menyesatkan dalam kehidupan kita. Lebih baik mari kita tempuh jalan panjang yang penuh perjuangan daripada jalan pintas yang menuju pada kehancuran dan pasti akan dikutuk oleh TUHAN.

Semoga sekelumit uraian saya ini bisa menjadikan pencerahan dan tidak simpang siur menyikapi masalah JUAL MANUSIA.

Oleh : Putera Mahadewa.

 Gambar

About these ads